Minggu, 02 Juni 2013

876 Prajurit Kodam IM Hanmars (Ketahanan Berjalan Kaki) Sejauh 15 Kilometer

- Materi Hanmars diberikan untuk mengingat kembali materi-materi Jasmani Militer serta memelihara dan meningkatkan kemampuan Jasmani prajurit untuk menghadapi tugas-tugas kedepan.

BANDA ACEH | Memasuki hari keempat, Kamis (30/5) pelaksanaan Minggu Militer pada bulan Mei 2013, para prajurit Kodam IM Segarnizun Banda Aceh melaksanakan kegiatan Hanmars atau ketahanan jalan yang merupakaan rangkaian dari Program Minggu Militer di Kodam IM.

Kegiatan Han Mars yang diikuti oleh 876 prajurit ini menempuh jarak kurang lebih 15 Km dengan mengambil start dari Lapangan Blang Padang Banda Aceh dan finish di Stadion Dimurthala Lampineng Banda Aceh.

Rute yang dilalui dalam kegiatan ini dari lapangan Blang Padang menuju ke wilayah perkantoran Pemda Aceh, Kantor Gubernur, Mapolda Aceh, Simpang Mesra, Simpang Tujuh hingga finish di stadion Dimurthala Lampineng Banda Aceh.

Demikian pula pada saat pelaksanaan, di titik- titik yang di waspadai, penyelenggara menempatkan unsur kesehatan, pomdam im, provost dan pelatih untuk mengantisipasi kondisi peserta dan medan apabila terjadi perubahan situasi yang tidak diinginkan.

Turut serta dalam pelaksanaan Hanmars ini Kasdam IM Brigjen TNI Suhastir Susmex didampingi para Asisten dan Kabalak Kodam IM.

Rokok Kebutuhan Kedua Setelah Beras di Aceh

“ Stroke, penyakit jantung, hipertensi, diabetes itu sangat tinggi di Aceh. Salah satu penyebabnya adalah rokok,” sebut Teuku Muhammad Thaib, Konsultan Kesehatan Anak Asal Aceh 

ACEH - Angka perokok di provinsi Aceh memang tinggi, dengan mayoritas pelakunya laki-laki. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI, pada 2010 perokok aktif di Provinsi Aceh mencapai 37,1 persen, berada di atas rata-rata nasional yang hanya 34,7 persen. Rata-rata mereka mengisap 10 hingga 30 batang rokok per hari.

Kepala Dinas Kesehatan Banda Aceh, Media Yulizar, mengatakan, angka itu meningkat tajam dibanding data riset 2007 yang rata-rata menghabiskan 19 batang rokok per hari. “Delapan dari 10 laki-laki di Aceh adalah perokok,” katanya.

Konsultan Kesehatan Anak di RSU Zainal Abidin Banda Aceh yang aktif mengampanyekan bahaya rokok, Teuku Muhammad Thaib, mengatakan, bayi atau anak yang orang tuanya merokok sangat rentan terkena penyakit.

“Biasanya kita para orang tua habis pulang entah dari mana, langsung menggendong anak. Kita tidak sadar kalau baju kadang sudah tertempel residu beracun yang bisa terhirup anak kita. Itu sangat bahaya bagi kesehatan si anak,” jelas Thaib.

Di Aceh, merokok bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga berpengaruh buruk terhadap sosial ekonomi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rokok ikut menyumbang andil besar terhadap kemiskinan. Pendapatan per kapita setiap bulan masyarakat Aceh pada 2012 sebesar Rp320 ribu.

Sebenarnya rokok bukanlah bahan makanan, namun BPS terpaksa memasukkan komoditas itu ke dalam survei persentase komoditas kebutuhan dasar makanan, karena besarnya pengeluaran masyarakat terhadap rokok. “Bahkan pengeluaran untuk rokok ini jauh melampaui pengeluaran untuk membeli daging yang hanya 0,61 persen,” tukas Ramlan.

Partai PAS Malaysia Study Visit Dengan Belajar Penerapan Syariat Islam Di Banda Aceh

Foto : Partai PAS Malaysia kunjungi Pemerintah Kota Banda Aceh.

Banda Aceh - Anggota Partai Islam Se-Malaysia (PAS) negara bagian Tenggranu, Malaysia, melakukan lawatan ke Pemerintah Kota Banda Aceh, Jumat, 31 Mei 2013. Mereka disambut Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal.

Kedatangan tim partai PAS itu, dipimpin petinggi partai yang juga anggota dari Ahli Dewan Undangan Negeri atau DPR Trengganu, Arifin Bin Deraman.

Usai pertemuan dengan Pemerintah Kota Banda Aceh, Arifin Bin Deraman, Mengatakan penerapan syariat islam di Aceh dan Malaysia sangat jauh berbeda, penerapan syariat islam secara kaffah di Aceh mampu dilaksanakan secara baik oleh pemerintah Aceh, maupun kabupaten dan kota, ia mencontohkan Kota Banda Aceh.

Perbedaan yang mencolok, kata dia, meski Malaysia merupakan negara yang berazaskan islam namun dalam penerapan hukumnya tidak berlaku sama sekali, hal ini karena masih tidak adanya dukungan dari pemerintah kerajaan Malaysia selaku pemerintah nasional.

Namun Aceh, kata dia, meski provinsi yang berada dalam negara yang bukan berazaskan islam namun pemerintah pusat memberikan peluang bagi Aceh dalam menerapkan syariat islam.

“Kita di negara sana pemerintah nasionalnya tidak memberikan peluang bagi provinsi Trengganu mapun Kelantan untuk penerapan syariat islam, meski di sana partai kita menguasai suara,” kata Arifin bin Deraman.

Melihat kondisi tersebut, kata dia, pihaknya datang ke Aceh guna mempelajari sistem kebijakan Indonesia terutama keistimewaan yang diberikan pusat untuk Aceh, serta bagaimana pemerintah Aceh memanfaatkan peluang tersebut untuk menerapkan syariat islam di Aceh.

“Masyarakat kami hanya tahu tentang hukum islam seperti salat, menunaikan ibadah haji, puasa. Tapi semacam cambuk bagi yang berzina disana tidak berlaku, bahkan budaya islam di sana jauh bergeser,” kata dia.

Arifin juga menambahkan, apa yang dipelajari di Aceh akan disampaikan dalam sidang DPR Trengganu nantinya

Kronologi Selengkapnya Pembunuhan Cek Gu

Motif Pembunuhan : ( Karena Cek Gu Mengejek Petinggi PA Zakaria Saman Dengan Menyebut Semua Proyek Saat Ini Dipegang Zakaria Saman)

Sigli - Kepolisian Satuan Reserse Kriminal Polres Pidie menggelar reka ulang kasus pembunuhan Teuku Muhammad bin Teuku Zainal Abidin alias Cek Gu, warga Keumala yang ditemukan tewas dalam mobil miliknya di Krueng Tiro pada 26 April 2013.

Reka ulang dilakukan di halaman belakang Mapolres Pidie, Jumat 31 Mei 2013. Proses rekonstruksi dipimpin Kasat Reskrim Polres Pidie AKP Raja Gunawan, disaksikan Usman SH dari Kejaksaan Negeri Sigli. Sedangkan tersangka didampingi tiga pengacara, Muharam SH, Muhammad Isa SH dan Hasbi SH.

Tiga tersangka pembunuhan Cekgu, yaitu Munir, Khairul dan Bustab. Tiga tersangka lainnya yang menjadi buronan Polres Pidie adalah Ilyas, Bang Sen dan Jufri. Dalam reka ulang itu, peran tiga buronan tersebut dalam kasus pembunuhan Cek Gu, diperankan anggota polisi.

Dalam reka ulang terungkap pembunuhan Cekgu berawal pada pembicaraan Bustab, Ilyas dan Bang Sen di salah satu warung kopi di Keumala pada Februari lalu. Mereka menganggap Cek Gu sering menghina seseorang berinisial ZS alias AK dan menyebut semua proyek saat ini dipegang AK.

Kasat Reskrim Raja Gunawan kepada wartawan mengatakan ada 33 adegan yang direka ulang, mulai percakapan di salah satu warung kopi di Keumala hingga tersangka Khairul dan Munir menerima uang dari Ilyas.

1. Pada pertemuan kedua awal April di kota mini Beureunuen, kata Raja Gunawan, Ilyas yang juga anggota DPRK Pidie bersama Munir dan Khairul merencanakan untuk membunuh Cek Gu karena dianggap sudah menentang pihak tertentu. Khairul ditunjuk sebagai eksekutor oleh Ilyas.

“Selanjutnya, Ilyas, Munir dan Khairul, kembali membicarakan pembunuhan. Kepada Khairul dan Munir, Ilyas menjanjikan satu mobil apabila berhasil membunuh yang bersangkutan (Cek Gu),” kata Raja Gunawan.

2. Pada 22 April 2013 di Gampong Bungie, Munir meminta Jufri untuk mencari tempat memakai sabu sebagai pancingan untuk mengundang Cek Gu, tapi Jufri mengaku tidak ada tempat. Kemudian Munir menanyakan posisi Cek Gu melalui telepon. “Saat itu korban (Cek Gu) masih berada di Tamiang dan akan pulang dalam tiga hari ke depan,” kata Raja Gunawan mengutip keterangan para tersangka.

3. Dalam reka ulang itu juga terungkap, di rumah Bustab di Gampong Bungie, Munir menerima uang Rp2 juta dari Bustab dan akan ditambah Rp50 juta lagi apabila sudah membunuh Cek Gu. Setelah mengetahui Cek Gu sudah ada di kampung, Munir membuat janji untuk bertemu di Simpang Kemangan Beureunuen.

4. Pada Kamis malam, 25 April, Cek Gu tiba di Simpang Keumangan dengan mobilnya. Kemudian tersangka Khairul dan Munir langsung menaiki mobil, Munir duduk di jok depan dan Khairul duduk di jok belakang Cek Gu. Dalam perjalanan dari Simpang Keumangan melewati Gampong Tidiek, melalui SMS Khairul menanyakan kepada Munir kapan Cek Gu akan dibunuh, Munir menjawab menunggu tempat sepi dulu untuk menembak Cek Gu.

5. Masih menurut data terungkap dalam reka ulang itu, di tempat sepi antara Gampong Waido dan Gampong Bereueh, setelah Khairul menembak Cek Gu, dua kali di kepala dan satu kali di perut, Munir menghubungi Jufri melalui telepon untuk menunggunya di lapangan sepakbola Lueng Sagoe Gampong Blang Bereueh.

6. Sebelum diceburkan ke sungai terlebih dahulu mereka mengambil dompet, hape dan cincin Cek Gu, kemudian mobil dan jasad korban didorong ke Krueng Tiro oleh Jufri dan Khairul.

7. Mereka kemudian berboncengan motor bertiga kembali Beurunuen. Pada pagi itu, Munir dan Khairul lalu bertemu Bustam melaporkan pekerjaan sudah selesai dan menerima uang Rp2 juta, selebihnya dijanjikan akan diserahkan Bustam setelah pulang dari Banda Aceh.

8. Pada adegan ke 33, Munir dan Khairul menuju ke kotamini Beureunun menjumpai Ilyas. Di sana Ilyas menyerahkan uang Rp3 juta untuk Khairul dan Munir.

Akhirnya Pembunuh Cek Gu Terungkap, Tgk Ilyas Anggota DPRK Pidie Dari Partai Aceh (PA)

* Tgk Ilyas Anggota DPRK Pidie Dari PA (Partai Aceh) ‘Aktor Utama’ Pembunuhan Cekgu, Ia (Tgk Ilyas) Sekarang Menjadi Buronan (DPO) Oleh Polisi

* Cekgu Dibunuh Bukan Karena Narkoba Melainkan Faktor Sakit Hati Karena Korban (Cek Gu) Telah Mengejek Petinggi Partai Aceh

Foto : Rekonstruksi (Reka Ulang) Kejadian Perkara Pembunuhan Cek Gu

Pidie – Tgk Ilyas, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie dari Fraksi Partai Aceh (PA), dinyatakan sebagai tersangka sekaligus ‘sutradara’ pembunuhan T Muhammad alias Cekgu. Kini Tgk Ilyas telah dimasukkan dalam DPO oleh polisi.

Hal tersebut terungkap pada rekonstruksi pembunuhan Cekgu yang berjumlah 33 adegan yang digelar di halaman Mapolres Pidie, Jumat (31/5/2013) siang. Pada rekonstruksi ini, polisi menghadirkan tiga tersangka yaitu, Munir, Khairul dan Bustab.

Dalam rekonstruksi tersebut, Tgk Ilyas terbukti merencanakan pembunuhan Cekgu, sebagaimana pengakuan tersangka Bustab yang saat itu hadir pada pertemuan pertama di bulan Februari di sebuah warung kopi di pasar Keumala, bersama Tgk Ilyas (DPO), Bang Sen (DPO pemilik senjata FN untuk membunuh Cekgu) dan Takbir (belum ditentukan statusnya oleh polisi).

Misteri pembunuhan T Muhammad alias Cekgu akhirnya terungkap dalam rekonstruksi yang dilaksanakan Jumat (31/5/2013) sekira pukul 10.00 WIB di halaman kantor Reskrim Polres Pidie.

Dalam rekontruksi yang berjumlah 33 adegan itu dihadiri oleh ketiga tersangka yaitu, Munir, Khairul dan Bustab. Diketahui Cekgu dibunuh karena ia telah menjelekkan petinggi Partai Aceh (PA), berinisial ZS warga Keumala.

Dalam adegan rekonstruksi itu terungkap pembunuhan Cekgu bukan karena Narkoba melainkan faktor sakit hati karena korban telah mengejek petinggi Partai Aceh. Selain itu, dalam rekontruksi tersebut terungkap ada tiga tersangka lain yang masih DPO.