Jumat, 31 Mei 2013

WNI (Laki-laki dan Perempuan) Yang Tolak Ikut Latihan Wajib Militer Bisa Kena Sanksi Pidana Maksimal 2 Tahun

* RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara Di Susun Untuk Memperkuat Basis Militer Di Indonesia Sesuai Dengan Keahlian dan Skill Yang Di Miliki Oleh Setiap WNI

Jakarta - Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan Pertahanan Negara (RUU Komcad) mencantumkan pasal bahwa seluruh warga negara Indonesia ikut wajib militer. Bila ada warga yang menolak, hukuman penjara menanti.

Menurut penelusuran atas RUU itu, ketentuan wajib militer terdapat pada pasal 6 ayat 3, yang berbunyi: Komponen cadangan disusun dalam bentuk satuan tempur yang disesuikan dengan struktur organisasi Angkatan sesuai masing-masing matra.

Selanjutnya dalam Pasal 8 ayat 3 tentang pengangkatan anggota komponen cadangan berbunyi: Pegawai negeri sipil, pekerja dan/ atau buruh yang telah memenuhi persyaratan wajib menjadi anggota komponen cadangan.

Pasal 9 Persyaratan umum untuk menjadi anggota komponen cadangan yakni :

a.warga negara Indonesia yang telah berusia 18 (delapan belas) tahun;
b.beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c.setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; dan
d.sehat jasmani dan rohani.

RUU Komcad juga mengatur soal sanksi pidana bagi masyarakat yang menolak direkrut, dan mereka yang berupaya mencari-cari alasan agar tidak memenuhi syarat menjadi anggota komponen cadangan militer

vivanews.com

Kamis, 30 Mei 2013

Perlu Lebih Banyak Lagi Dana Pusat ke Aceh, Untuk Pembangunan Yang Lebih Baik

Kepala Bappeda Aceh : Perlu Lebih Banyak Lagi Dana Pusat ke Aceh, Untuk Pembangunan Yang Lebih Baik

"Kita perlu dorong Anggota di DPR-RI Asal Aceh agar usulanl di daerah terdanai lebih banyak lagi dengan dana pusat," ujar Abu Bakar di Jakarta

Jakarta - Ketua Bappeda Aceh, Abubakar mengatakan, Pemerintah Aceh masih banyak membutuhkan dana pusat untuk pembangunan maupun sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, dana Aceh saat ini, hanya mengandalkan dari Otsus maupun DAK dan DAU dimana besarannya sekitar Rp 9 - 11 Trilyun. Tetapi, bagaimana mencari tambahan lain dengan tidak mengganggu dana yang sudah ada.

"Ada 13 wakil Aceh duduk di DPR-RI ditambah 4 anggota DPD justru mereka masing-masing yang duduk di Komisi dapat memperjuangkannya," katanya lagi.

"Memang kita akui, soal angka kemiskinan dan pengangguran belum bisa diturunkan secara drastis.

Tetapi usaha kita setiap tahun diupayakan turun sekitar 2,5 persen, meski itu berat," jelasnya.

Abubakar memprediksikan, hingga 2017 nanti, angka kemiskinan dan pengangguran dapat ditekan, sehingga program kesejahteraan masyarakat Aceh dapat bangkit dan angka indek harapan hidup semakin panjang.

50 Persen Guru di Aceh Tidak Layak Mengajar

Rektor UNSYIAH Prof. Syamsul Rizal, M. Eng : 50 Persen Guru di Aceh Tidak Layak Mengajar

“Sekitar 50 persen guru di Aceh tidak layak berdiri di depan kelas. Kemampuan mereka tidak lebih baik dari anak SMP,” ujar sang Rektor.

Banda Aceh- sekitar 50 persen guru yang ada di Aceh dalam kondisi tidak layak berdiri didepan kelas. Kemampuan mereka tidak lebih baik dari anak SMP. Demikian pernyataan Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Syamsul Rizal, M. Eng, Kamis (30/5/2013) dalam seminar yang bertema “Kepedulian Bersama Mendukung Kemajuan Pembangunan Aceh” di hotel Hermes Palace.

Untuk itu dia berpesan kepada mahasiswa yang ikut hadir dalam acara itu, bahwa sarjana bukanlah karena secarik kertas yang bernama ijazah. Paradigma ini harus dirubah. Sarjana haruslah hebat.

Tidak ada alasan untuk bodoh. Sebab ilmu pengetahuan berada di depan jari tangan. “Sarjana harus hebat. Bukan sekedar secarik kertas yang bernama ijazah. Ilmu sekarang ini berada didepan jari tangan,” ujarnya.

Unsyiah sendiri, sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Aceh punya tanggung jawab untuk menjawab tantangan ini. Untuk itu, kedepan dia dan segenap jajarannya akan terus melakukan berbagai penelitian dan kemudian memberikan masukan yang konstruktif bagi Pemerintahan Aceh.

Pengembalian PT sebagai sentra pengetahuan menjadi hal yang penting. Juga kampus sebagai tempat berkembangnya penelitian, pendidikan dan pengajaran untuk mewujudkan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kampus sebagai lumbung SDM haruslah melahirkan manusia-manusia yang punya daya saing dan kompetensi yang tinggi.

Indahnya Panorama Danau Laut Tawar Di Aceh Tengah

Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggröe Aceh Darussalam. Disisi barat danau ini terdapat sebuah kota kabupaten yaitu kota TAKENGON, yang juga merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tengah.

Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter).

• Ada 25 aliran krueng yang bermuara ke Danau Laut Tawar dengan total debit air kira-kira 10.043 liter per detik.
• Rerata kedalaman danau:
o 35 meter dari pinggir danau: 8,9 meter.
o 100 meter dari pinggir danau: 19,27 meter.
o 620 meter dari pinggir danau: 51,13 meter.
• Rerata suhu air danau diukur berdasarkan kedalaman:
o 1 meter: 21,55 °C
o 5 meter: 21,37 °C
o 10 meter: 21,15 °C
o 20 meter: 20,70 °C
o 50 meter: 19,35 °C
• Kecerahan tertinggi 2,92 meter (di tengah danau), sedangkan yang terendah 1,29 meter (Kp. Kuala II). Semakin tinggi kecerahan, maka semakin jernih air.
Karakteristik kimiawi

Ditemukan 46 jenis plankton yang terbagi atas 11 kelas di Danau Laut Tawar, dengan rincian kelas Chlorophyceae sebesar 35%, Bacillariophyceae 24%, Myxophyceae 9%, dan kelas lain sebesar 32%. Hydrilla sp., eceng gondok, dan kiambang juga dapat ditemukan hidup di pinggiran danau.

Fauna Yang Ada Di Kawasan Danau Laut Tawar

Ditemukan 3 jenis moluska, 1 jenis annelida, 37 jenis ikan, dan 49 jenis serangga yang hidup di kawasan Danau Laut Tawar. Untuk hewan yang hidup di sekitar danau, ditemukan 20 spesies mamalia yang terbagi atas 13 famili, beberapa diantaranya termasuk hewan yang dilindungi, antara lain binturung, pukas, trenggiling, landak, kancil, napu, owa, siamang, tanado, harimau, kucing hutan, rusa, dan kijan

Beli Mobil, Warga Aceh Lebih Banyak Bayar Tunai

Beli Mobil, Warga Aceh Lebih Banyak Bayar Tunai Dari Pada Kredit

Foto : Salah Satu Jenis Mobil Terbaru Toyota Etios

BANDA ACEH - Masyarakat Aceh ternyata lebih memilih membayar tunai untuk pembelian mobil. Hal ini bertolak belakang dengan sepeda motor yang justeru didominasi oleh pembelian secara kredit.

Informasi yang diperoleh Serambi persentase pembelian mobil secara tunai (semua merek) diperkirakan mencapai 60 persen dari total penjualan, sementara untuk sepeda motor hanya sekitar 30 persen yang beli tunai.

“Secara umum, masyarakat Aceh lebih banyak beli mobil secara tunai. Persentasenya sekitar 60 persen cash/tunai, dan 40 persen kredit,” kata Supervisor PT Dunia Barusa (Toyota), Azhar, kepada Serambi, Rabu (29/5).

Nah di PT Dunia Barusa sendiri, dia mengungkapkan bahwa persentase antara pembelian tunai dengan kredit nyaris berimbang, yaitu 50:50.

Kepala Cabang Honda Arista, Yanto, juga menyatakan hal serupa. Hanya saja prediksinya sedikit lebih rendah, yaitu 55 persen beli tunai dan 45 persen kredit. “Kalau khusus merek Honda, ada sekitar 60 persen itu pembelian tunai, sisanya 40 persen lagi yang beli kredit,” kata dia.

Sementara untuk merek mobil Suzuki, pembelian sebagian besar dilakukan dengan cara kredit. “Pembelian cash (tunai) sekitar 15 persen, sisanya kredit semua,” kata Khairul dari PT Armada Banda Jaya selaku main diler Suzuki Mobil di Aceh.

Kepala Penjualan PT Capella Dinamik Nusantara, Saifullah, menyebutkan, pembelian secara kredit menguasai sekitar 65 persen dari total penjualan sepeda motor Honda.

Pembelian kredit ini umumnya banyak terjadi di daerah-daerah yang memiliki perkebunan, seperti Lhokseumawe dan Meulaboh.

Kondisi yang sama juga terjadi pada merek Yamaha. Menurut Aprizal, Sales Supervisor pada PT Yamaha Alfa Scorpii Lambaro, Aceh Besar, pembelian kredit menguasai 70 persen dari total penjualan sepeda motor Yamaha. “Pembelian cash (tunai) hanya sekitar 30 persen,” demikian Aprizal